Ubah Cover Sebelum Ngover

Umum
PENGAMEN
profile
Ditulis oleh: Muhammad Hidayatullah

#NUBackPacker. Orang yang berniat insyaf mendaki tapi selalu kambuh lagi. Orang yang berniat berdiam diri di rumah tetapi selalu pergi lagi.

Artikel Dibaca : 591 Kali

Jarang-jarang saya dengan bu ketum pergi bareng seperti hari ini. Aihhhh. Katanya ke harmonisan hubungan ketum IPNU-IPPNU ini bahkan bikin iri beberapa daerah. Padahal kita mah sering ya berantem. Bukan begitu, bu ketum?

Eitsss. Kepergian saya dengan bu ketum ini mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan judul. Hanya… dalam perjalanan pulang kita hari ini, saya mendapat suguhan yang sangat menarik dari dua bapak-bapak pengamen. Musikalitasnya joss. Suaranya empuk. Nggak ngebosenin. Sekitar lima lagu di bawakan, tapi saya merasa masih kurang. Mungkin ‘penghuni’ bus yang lain merasakan hal yang sama. Mungkin juga bapak sopir yang sedari tadi celingak-celinguk memperhatikan lewat spion. Lagu demi lagu mereka berdua dendangkan. Terpaksa saya harus ‘durhaka’ dengan petuah simbah, “Nek ono pengamen ndang-ndang di wenehi, ojo nunggu ngasi nyanyi” – Kalau ada pengamen, cepat diberi, jangan tunggu sampai menyanyi.

Sampai akhirnya saya terhenyak karena bapak-bapak pengamen berbaju oren terbatuk persis di samping saya. Suaranya habis. Serak becek. Di beberapa kesempatan bahkan terpaksa setengah berteriak karena saling kejar dengan nada. Untung temannya yang memegang kendal tidak gagal paham. Posisi vokalis dia ambil alih. Suaranya empuk seperti koes plus. Bapak-bapak berbaju oren pun kini konsentrasi penuh dengan kencrungnya. Di ambarawa mereka berdua turun.

Setengah perjalanan menuju Magelang, dua orang pengamen naik ke bus. Usianya jauh lebih muda dari bapak-bapak tadi. Namun penampilannya tidak kalah rapi. Sang vokalis memakai kemeja putih dan si pemegang kendang malah berjas meski tindik dari sedotan nyantol di telinganya. Kombinasi gitar, kendang dan harmonikanya luar biasa. Lagu Surga-Mu dari Ungu di dendangkan sebagai pembuka. Mungkin ingin menghadirkan hubungan religius antara Tuhan, mereka dan penghuni bus. Mungkin saja dengan embel-embel Tuhan, jiwa sedekah penghuni bus yang kebanyakan cuek bisa terangkat ke permukaan. Mungkiiiiin.

Sang vokalis yang kira-kira berumur 30-an sangat lincah berdendang. Mulutnya lihai berpindah ke harmonika di waktu yang tepat. Sang teman juga tak mau kalah mabuk menikmati irama dalam memainkan kendang. Sekitar 5 lagu dibawakan hingga Magelang. Mereka turun di terminal dan digantikan puluhan pedagang asongan yang menawarkan aneka jajanan hingga perlengkapan sekolah.

Penampilan yang rapi dari para pengamen itu sangat menarik perhatian saya. Dulu, ketika saya backpackeran, pengamen-pengamen di jalanan terkesan berpakaian urakan. Katoknya bolong-bolong dan baunya luar biasa. Nyanyinya pun asal-asalan. Sudah pasti penghuni bus menjadi tidak nyaman. Beberapa bahkan memaksa saat meminta sumbangan dan mendoakan yang jelek-jelek. Memang sudah saatnya para pengamen memperhatikan penampilan mereka. Sudah saatnya pengamen pun belajar memanusiakan para penghuni bus. Kemanusiaan yang selama ini di kenali hanyalah memanusiakan kelompok masing-masing. Mereka ingin dihargai dengan penampilan mereka yang awut-awut an tanpa mau menghargai kenyamanan penghuni bus yang telah mengeluarkan uang untuk menghantarkan perjalanan. Malahan, dengan penampilan mereka yang rapi, musikalitas yang terus di asah dan lagu yang memang niat di nyanyikan untuk menghibur, para pengamen ini akan mendapat respect yang hebat dari penumpang.

Ketika Ahok memutuskan mengganti semua metromini lawas dengan bus yang baru, tanpa muatan politik apapun, saya ada di pihak yang menyetujui. Bus yang baru akan jauh lebih nyaman dan menjawab kebutuhan keselamatan. Sudah jadi rahasia umum sopir metromini mengendarai busnya dengan ugal-ugalan bahkan kadang hingga jedutan (bersenggolan). Kita pun bisa membedakan pengamen jalanan yang masuk ke metromini dan bus-bus yang lebih bagus. Pada intinya, satu perubahan akan menghasilkan perubahan yang lain.

Namun di detik ini, saya masih yakin dan optimis rakyat kita mulai dari elit hingga sipil sudah makin cerdas. Pengamen-pengamen kini rapi, mulai dari penampilan hingga suara. Peminta-minta pun sopan karena sekarang tak lagi memaksa-maksa. Penyemprot minyak wangi dan pembersih kolong tempat duduk penumpang di kereta api ekonomi yang dulu meminta uang dengan mengancam semakin tidak memiliki ruang. Kejahatan di pasar-pasar kalah dengan nyala lampu jalanan yang kini sudah terang.

Sekali lagi, teman-teman pengamen harus bisa merubah cover atau penampilan diri sendiri dahulu sebelum ngover atau membawakan lagu orang. Jika sudah begitu, waktu yang kita lalui bersama di bus selama perjalanan akan menjadi romantisme kehidupan luar biasa. Penghuni bus sudah pasti akan mengangeni kalian. Berharap suatu saat bisa berjumpa lagi di perjalanan lain atau bahkan menjadi saudara. Kita sama-sama membangun Indonesia menjadi lebih baik. Mulai dari parlemen hingga kolong jembatan. :)


Tulisan Muhammad Hidayatullah Lainnya + View All

Comments


load